Satu ujikaji radiasi telefon bimbit ke atas telor telah dijalankan. Bahan yang digunakan sebiji telur dan dua buah telefon bimbit. Persediaan adalah seperti gambar PERTAMA
Panggilan di antara dua telefon diaktifkan untuk tempoh selama lebih kurang 65 minit. Hasilnya seperti berikut:
15 minit - tiada apa yang berlaku.
25 minit - telur mulai panas.
45 minit - telur telah panas.
65 minit - telur telah masak.
Gambar telur tersebut dipaparkan pada gambar KEDUA
Rumusan: Radiasi dari telefon bimbit mampu untuk mengubah protein telur. Bayangkan apa yang ia dapat buat kepada protein otak anda apabila anda berbual untuk tempoh yang panjang menggunakan telefon bimbit.
Saya mengingatkan diri saya dan pembaca sekalian agar jangan berbual lama-lama melalui telefon bimbit.
Bagaimana dengan telefon bimbit yang disimpan di pinggang? Apakah ianya memberi kesan yang sama? Bagaimana pula dengan mereka yang menyimpan dua buah telefon, satu di kocek kanan dan satu di kocek kiri?
Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1).
Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya (yang artinya),
“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5).
Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga. Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar. (Zaadul Maysir, 6/179)
Kedua, lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” Mujahid dan Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar.
Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Bilakah Lailatul Qadar Terjadi?
Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)
Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)
Lalu bilakah tarikh pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (Fathul Baari, 6/306, Mawqi’ Al Islam Asy Syamilah).
Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)
Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.
Do’a di Malam Lailatul Qadar
Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata, ”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits inishahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun …” tidak terdapat satu dalam manuskrip pun. Lihat Tarooju’at no. 25)
Tanda Malam Lailatul Qadar
Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)
Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.
Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.
Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim no. 1174)
Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Lailatul Qadar?
Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari lailatul qadar, maka dia telah terluput dari seluruh kebaikan. Sungguh merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.)
Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)
Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi istri-istrinya dari berjima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau menguatkan ikatan kain sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)
Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksana kan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)
Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam lailatul qadar adalah menghidupkan majoriti malam dengan ibadah dan bukan seluruh malam. Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat boleh pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/313, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)
Bagaimana Wanita Haidh Menghidupkan Lailatul Qadar?
Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap boleh mendapatkan bahagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)
Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah: (1) Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf, (2) Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya, (3) Memperbanyak istighfar, dan (4) Memperbanyak do’a. (Lihat pembahasan di “Al Islam Su-al wa Jawab” pada link http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753)
Beri’tikaf Demi Menanti Lailatul Qadar
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Inilah penuturan ‘Aisyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim 1172)
Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika ingin beri’tikaf.
Pertama, i’tikaf harus dilakukan di masjid dan boleh di masjid mana saja. I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.
Menurut majoriti ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”. Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, ”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho”. Perlu diketahui, hadits ini masih dipersilisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat).
Kedua, wanita juga boleh beri’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: (1) Diizinkan oleh suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki).
Ketiga, yang membatalkan i’tikaf adalah: (1) Keluar masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada keperluan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), (2) Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di atas.
Keempat, hal-hal yang dibolehkan ketika beri’tikaf di antaranya: (1) Keluar masjid disebabkan ada hajat seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid, (2) Melakukan hal-hal mubah seperti bercakap-cakap dengan orang lain, (3) Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya, (4) Mandi dan berwudhu di masjid, dan (5) Membawa kasur untuk tidur di masjid.
Kelima, jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 (sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan.
Keenam, hendaknya ketika beri’tikaf, sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. (pembahasan i’tikaf ini disarikan dari Shahih Fiqih Sunnah, 2/150-158)
Semoga Allah memudahkan kita menghidupkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan dengan amalan ketaatan. Hanya Allah-lah yang memberi taufik
Ulasan Salafi:
Satu soalan yang sering diajukan menurut rasional ramai orang. Kenapa kita tidak diberitahu secara tepat berlakunya lailatul Qadar itu?
Ada satu riwayat dari Ubadah bin Somit ra. telah berkata bahawa Rasulullah saw pada suatu hari telah keluar kepada orang ramai untuk menyampaikan berita berlakunya hari yang tepat Lailatul Qadar, tetapi dipertengahan jalan Rasulullah menemui dua lelaki muslim yang sedang bertengkar....
Maka bersabdalah Rasulullah saw, sesungguhnya aku telah keluar untuk memberitahukan kamu semua akan saat tepat berlakunya malam tersebut, tiba-tiba kuperhatikan dua orang muslim yang sedang berdebat dan bertengkar, maka para malaikat yang membawa berita itu pergi dan mengangkat semula pemberitahuan itu. Mudah-mudahan kamu akan mendapat kebaikan darinya, maka carilah malam tersebut pada malam 24, 27 atau 25 daripada Ramadhan."
Jadi, justru manusia berdebat dan bertengkar, maka hilanglah keberkatan. Rasulullah sangat tidak suka kepada orang yang berdebat, walaupun ia seorang yang berada pada pihak yang benar. Kerana berdebat itu hanya untuk mencari menang, bukan mencari kebenaran, natijahnya debat itu, manusia akan saling mengejek, memaki, bertengkar dan bermusuh sesama manusia.....
Rasulullah saw jamin, barangsiapa yg meninggalkan debat walaupun ia dari pihak yg benar, Allah akan bangunkan baginya istana dibahagian tengah syurga.....Amin.
Isu Kartika: Temubual Akhbar Sinar Dengan Dr Mohd Asri Zainul Abidin
Disiarkan pada Sep 07, 2009 dalam kategori Wawancara |
Soalan : Apakah pandangan Dr tentang isu Kartika, mengapakah masyarakat Islam sendiri berbeza pendapat tentang isu ini, tidakkah jelas meminum arak merupakan dosa besar dalam Islam?
Jawapan: Pertamanya kita hendaklah jelas bahawa tiada siapa pun di kalangan mereka yang benar-benar muslim boleh mempertikaikan tentang ‘haramnya’ meminum arak bagi seorang muslim. Ini perkara yang disepakati. Kita tidak boleh berbeza dalam hal ini. Namun apabila tiba kepada persoalan menghukum ‘peminum arak’, di sini mungkin akan ada sedikit pandangan dan perbincangan yang mungkin akan timbul perbezaan pendapat. Perbezaan itu mempunyai banyak faktor, antaranya faktor hukum itu sendiri di mana di kalangan sarjana Islam itu berbeza pendapat tentang statusnya. Kedua faktor persekitaran atau realiti semasa yang kita hadapi sekarang.
Soalan: Apakah yang Dr maksudkan dengan sarjana Islam berbeza pendapat tentang perlaksanaan hukum ke atas peminum arak?
Jawapan: Mereka berbeza pendapat, apakah hukuman sebat yang pernah disebutkan dalam hadis-hadis Nabi s.a.w dan juga sejarah pelaksanaannya di zaman al-Khulafa al-Rasyidin dimasukkan dalam kategori hudud atau sekadar ta’zir (discretionary punishment). Walaupun ramai yang berpendapat kesalahan minum arak di bawah hudud, mereka berbeza pendapat pula tentang jumlah sebatan. Ini kerana al-Quran tidak menyebut hukumannya, cuma hadis ada menunjukkan dipukul empat puluh kali.
Namun pada zaman Khalifah Umar al-Khattab r.a. beliau berbincang kadar hukuman tersebut, lalu beliau menerima pandangan ‘Abd Rahman bin al-‘Auf untuk melaksanakannya sebanyak lapan puluh kali. Ini seperti yang disebut dalam riwayat al-Imam Muslim. Tindakan Khalifah ‘Umar ini menyebabkan sarjana berbincang apakah hukuman untuk peminum arak ini hudud atau takzir (discretionary punishment).
Ini kerana jika ia hudud, sepatutnya, tidak ditambah. Apatahlagi, Nabi s.a.w semasa melaksanakan hukuman ini tidak pula menjelaskan apakah ia hukuman yang ditetapkan oleh Allah (hudud) atau ia hanya ketetapan pemerintah berdasarkan kepada keperluan maka itu dinamakan takzir. Lebih daripada itu, dalam hadis menunjukkan pesalah minum arak ada yang dipukul dengan tangan, kain, dan selipar sahaja. Tiada ketegasan yang jelas dalam kaedah pukulan.
Jika ia dianggap bukan hudud, sebaliknya sekadar takzir, maka kadar hukuman takzir boleh diputuskan oleh pemerintah. Jika diputuskan enam rotan pun, itu ijtihad atau pandangan pemerintah atau hakim yang boleh dinilai di segi prinsip umum takzir.
Maka pandangan beberapa tokoh agama bahawa Kartika patut disebatkan empat puluh atau lapan puluh rotan, jika tidak hukuman tersebut tiada maknanya, pada saya itu pandangan mereka agak terhad tentang persoalan ini.
Soalan: Adakah hukuman sebat kepada peminum arak itu memberikan kesan pengajaran yang baik kepada masyarakat?
Jawapan: Ini bergantung kepada bagaimana ia dilaksanakan. Jika menurut kaedah yang betul, maka kesannya pasti positif. Jika tidak, sebaliknya akan berlaku. Ramai orang apabila sebut hukuman sebat bagi kesalahan arak atau zina dalam Islam, ia bayangkan hukuman sebat yang biasa dilaksanakan dalam penjara-penjara kita.
Sama sekali tidak benar! Sebat atau rotan bagi hukuman ini bagaikan hukuman rotan di zaman persekolahan dahulu sahaja. Atau mungkin boleh saya katakan bagaikan bapa yang merotan anaknya dengan penuh kasih-sayang, sekadar untuk mengajar bukan untuk mencederakan. Jangan terpengaruh dengan filem ‘Semerah Padi’. Itu tidak betul.
Dalam hadis riwayat al-Imam al-Bukhari daripada Abu Hurairah, beliau berkata: “Dibawa kepada Nabi s.a.w seorang yang mabuk (minum arak), maka baginda memerintahkan agar dipukul, maka dalam kalangan kami ada yang memukulnya dengan tangan, ada yang memukul dengan selipar dan ada pula yang memukulnya dengan kainnya. Apabila selesai, seseorang berkata: “Allah telah menghinanya”. Maka Rasulullah s.a.w pun bersabda: “Jangan kamu menjadi pembantu syaitan (merosakkan) saudara kamu”.
Maksudnya, mencercanya menyebabkan syaitan mudah untuk merosakkannya lagi. Dalam hadis ini menunjukkan hukuman itu berjalan hanya sekadar dengan kain atau tangan atau selipar, tujuannya bukan untuk menyeksa, tapi mengingatkan.
Janganlah pula berlebihan, hukumannya hanya pukulan tersebut maka tidak perlu diikuti dengan cercaan. Maka sesiapa yang merasakan dirinya pejuang Islam, janganlah menokok tambah dengan makian kerana itu tidak serasi dengan tabiat perlaksanaan yang ditunjukkan oleh Nabi s.a.w.
Soalan: Jadi, apakah Dr setuju atau tidak hukuman Islam seperti hudud dilaksanakan dalam negara kita?
Jawapan: Hudud adalah hukum yang ada dalam dalam al-Quran dan al-Sunnah, tiada siapa berhak mempertikaikannya. Namun sebelum dilaksanakan, ada banyak persoalan yang perlu ditangani. Bukan soal setuju atau tidak, soalannya sejauh manakah jika hukuman ini dilaksanakan ia mencapai maksud dan tujuan hukuman tersebut.
Tujuan hukuman untuk melaksanakan keadilan dan memberikan pengajaran sesuai dengan ajaran Islam. Hukuman mestilah memberikan natijah yang baik kepada Islam dan mampu menaikkan imej Islam serta memberikan nilai yang positif kepada masyarakat termasuk diri yang dihukum. Jika ia memberikan kesan yang negatif, maka maksud hukuman itu akan tersasar.
Saya pernah sebutkan dalam satu artikel saya bahawa ramai yang bercakap tentang hudud, namun ramai juga, sama ada yang bersetuju atau membantah tidak mempunyai pengetahuan yang jelas dalam banyak perkara mengenainya. Ramai yang blind imitation dalam memperkatakan hukuman jenayah dalam Islam ini. Sama ada hanya terikut-ikut dengan media, atau terikut-ikut teks kitab-kitab lama. Ramai yang tidak menyemak tentang maksud, kaedah, keadaan, suasana dan keluasannya.
Seseorang muslim yang faham tidak mungkin menentang hudud, tetapi mungkin bertanya adakah suasana yang menyebabkan perlaksanaan hudud yang adil dan berkesan wujud pada sesuatu tempat dan masa untuk menjadikan ia mencapai tujuannya? Apabila syarat dan suasana itu wujud, maka hudud dilaksanakan. Ketika itu akan dapat dilihat keadilan, keindahan dan kesan hukuman tersebut yang bertujuan untuk kebaikan manusia.
Dalam hadis sahih, Nabi s.a.w bersabda: “Jangan dipotong tangan (pencuri) ketika dalam peperangan” (Riwayat al-Tirmizi dan al-Darimi). Al-Imam Tirmizi ketika meriwayat hadis ini menyebut: “Sebahagian ilmuwan berpegang dengan nas ini, antara mereka al-Auza’i, mereka berpendapat tidak dilaksanakan hudud ketika peperangan, berhadapan dengan musuh kerana dibimbangi individu yang dihukum itu akan pergi menyertai musuh…”.
Saya melihat, jika kebimbangan musuh mengambil kesempatan atau orang Islam meninggalkan Islam itu adalah sebab yang dilihat oleh sebahagian sarjana mengapa Nabi s.a.w melarang hukuman tersebut dilaksanakan, maka pada zaman yang fitnah terhadap Islam di pelbagai penjuru dan kerapohan iman umat Islam begitu nyata, penelitian tentang perlaksanaan hudud itu mestilah lebih berhati-hati. Perlaksanaan hudud mestilah membawa natijah yang positif, bukan negatif kepada Islam.
Maka perjuangan mengujudkan suasana yang conducive itu mendahului usaha perlaksanaan hudud. Setelah wujudnya masyarakat adil; pemerintah dan rakyat, suasana iman dan Islam, kehidupan yang aman dan bahagia, tiba-tiba ada yang mencetuskan jenayah yang mencemarkan itu semua, ketika itu apabila dilaksanakan hudud tertonjollah kesan dan keindahannya.
Di samping, saya selalu sebut, hukuman yang hendak disandarkan kepada Islam itu, bukan sahaja mesti adil, tetapi juga kelihatan adil.
Soalan: Apa maksud Dr mesti kelihatan adil? Apakah dalam kes Kartika kelihatan adil atau tidak?
Jawapan: Semasa isu Kartika ini tercetus, saya masih berada di UK. Banyak email dari Malaysia saya terima menyatakan rasa tidak puas hati kepada pihak berkuasa agama. Bukan tidak puas hati dengan hukuman itu, tetapi dengan keadaan yang berlaku.
Ada yang menyatakan kepada saya, mengapakah peminum arak sahaja dihukum, sedangkan taukeh-taukeh arak yang beragama Islam dibiarkan? Sedangkan mereka ini ada memakai gelaran yang hebat-hebat dan ‘disembah hormat’ oleh rakyat.
Ada pula berkata: “Mengapa kes model itu begitu cepat diproses, sedangkan dia yang menderita kes rumah tangga saya sudah bertahun lamanya, mahkamah syariah belum putus apa-apa?”. Berbagai lagi sungutan yang lain.
Ya, sebahagian rungutan itu benar. Bagaimana mungkin kes-kes penginiayaan terhadap wanita; kes talak, kezaliman rumahtangga dan berbagai lagi yang bertangguh-tangguh di mahkamah kita lama gagal diproses, tiba-tiba untuk menghukum seorang wanita kelihatannya begitu pantas. Sedang kita tahu di sana ada berbagai pihak luar cuba mengambil kesempatan seperti CNN untuk menyatakan adanya diskriminasi terhadap wanita dalam masyarakat Islam. Ini member ruang kepada mereka.
Ya, kita tahu, itu semua bukan justifikasi untuk peminum arak dibiarkan, tetapi hukuman apabila tidak kelihatan adil atau serakam, manusia akan membuat berbagai alasan dan akhirnya tujuan dan keindahan hukum itu hilang.
Para ulama dan pejuang Islam mempunyai tugasan yang berat untuk memboleh Islam dalam bentuk dakwah dan pendidikan itu menjelma dalam bentuk hukuman dan perlaksanaan yang adil dan saksama.
Maka tidak munasabah dipotong tangan pencuri dalam masyarakat yang lapar dan terdesak. Tidak munasabah dihukum hudud orang berzina dalam masyarakat yang unsur zina bertebaran, perkahwinan disusah-susahkan, kes perceraian ditangguh-tangguhkan dan berbagai keadaan yang mendorong kepada zina. Munasabahkah dilaksanakan hukuman murtad dalam dunia yang penuh keliru dan kegagalan golongan agama dan pemerintah merongkaikan kekeliruan secara berkesan. Apatahlagi hukuman murtad itu sendiri mempunyai berbagai penafsiran.
Saya setuju, bahkan menyokong segala hasrat untuk menguatkuasakan undang-undang syariah, tetapi hendaklah secara menyeluruh dan memberikan impak yang positif kepada Islam. Suasana semasa dan mentaliti masyarakat hari ini hendaklah diambil kira. Isu Kartika baik sebagai satu usaha. Apatahlagi Kartika sendiri bersetuju dan rela. Namun, suasana semasa kurang berpihak kepada Mahkamah Tinggi Syariah Kuantan. Bukan kesalahan pihak mahkamah, tetapi nilai agama dan pemikiran masyarakat yang bermasalah.
Soalan: Apakah patut cadangan sesetengah pihak agar Kartika memohon diringankan hukuman?
Jawapan: Ya, jika ada baginya keuzuran dalam hal tersebut. Hudud sekalipun, jika ada ruang, seseorang boleh memohon keuzuran untuk dirinya, dia oleh pohon. Inikan pulak takzir. Bukan semestinya seseorang yang berdosa itu dihukum baru dia diampunkan Allah. Tidak demikian, yang penting seseorang itu insaf. Kartika telah menunjukkan keinsafan ini.
Dalam hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim, Maiz bin Malik yang datang memaklumkan kepada Nabi s.a.w bahawa dia berzina, Nabi s.a.w berulang menolak pengakuan itu dan cuba memberikan berbagai alasan untuknya agar kesnya tidak disabitkan. Dalam ertikata lain, taubat diterima Allah sekalipun tidak melalui proses hukuman.
Pelaksanaan hukum tanggungjawab penguasa, namun bukan semestinya seseorang yang berdosa wajib mengistiharkan kesalahannya di hadapan penguasa agar dihukum. Pun begitu jika seseorang memilih hukuman agar menjadi kifarah dosa untuknya, itu juga haknya. Sebab itu Nabi s.a.w meneruskan hukuman bagi mereka yang terus meminta agar dia dihukum. Itu hak mereka. Kes Kartika, kesalahan telah disabitkan. Jika dia merasakan tiada ruang untuknya diberi pengecualian dan sebagai pengajaran untuk orang lain, itu hak dia. Mungkin juga baik bagi mengingatkan orang lain.
Cumanya, seperti yang saya sebutkan dulu, asalnya Islam tidak suka mencari keburukan peribadi orang untuk dihukum. Bukan itu tujuan mahkamah dalam Islam. Bukan untuk mengintip keburukan peribadi orang, kecuali jika dia sendiri melakukan maksiat itu di khalayak ramai, maka ketika itu dihukum.
Nabi s.a.w menyebut: “Setiap umatku diberikan keampunan kecuali orang-orang yang menampakkan (dosanya)” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim). Dalam satu riwayat daripada Zaid bin Wahb, katanya: Dibawa seorang lelaki kepada ‘Abd Allah bin Mas’ud, lalu diberitahu kepadanya: Lelaki ini menitis arak dari janggutnya. Kata ‘Abd Allah bin Mas’ud: “Kita dilarang untuk mengintip, namun apabila jelas kepada kita maka kita bertindak”.( Riwayat Abu Daud. Sanadnya sahih).
Kesalahan atau dosa yang bersifat peribadi dalam Islam ini hendaklah ditutup sedaya mungkin, melainkan jika individu itu sendiri yang melakukannya secara terbuka.
Soalan: Apakah nasihat Dr dalam isu ini?
Jawapan: Saya menasihati diri saya dan orang ramai, yang pro atau kontra dengan isu ini, fahamilah maksud dan hikmah prinsip hukum dalam Islam ini dengan cara yang betul. Menyokong atau menentang secara membuta tuli hanya merugikan dunia ilmu dan akan mencemarkan hakikat bagi sesuatu perkara.