Isnin, Disember 25, 2017

ILMUAN MUSLIM DI TENGAH TRANFORMASI MASYARAKAT MODEN SIRI 1



Disusun semula Oleh

Norazli Bin Aziz S.ag.M.A

SIRI 11`

Siapa ilmuan Muslim?

Dalam tinjauan sosiologi ilmuan mempunyai fungsi strategis dalam mengembangkan nilai-nilai ditengah masyarakat lingkungannya.

Peranan ilmuan, kebelakangan ini semakin sering dibicarakan. Hal ini kerana lajunya arus perubahan sosial, sehingga memerlukan interpretasi objektif terhadap gejala-gejala yang ditimbulkannya. Dari perspektif ini, perlu dipersoalkan, siapa sebenarnya ilmuan itu"

Ilmuan adalah seseorang yang mempunyai pemikiran cergas, berfikiran luas dan pemikir merdeka. Ertinya mereka mempunyai kebebasan berpikir dan bertindak serta sentiasa mempunyai kepedulian sosial, dengan tidak mengambil keuntungan pribadi.

Menurut James Mc Gragor Burus seperti dipetik Jalaluddin Rahmat, bahawa intelektual adalah a devotee of ideas, knowladge, values orang yang terlihat secara kritis dengan nilai, tujuan dan cita-cita, yang mengatasi keperluan-keperluan praktis.1

Ungkapan ini mengisyaratkan bahawa ilmuan itu, adalah seorang yang sarat akan nilai, gagasan dan analitis untuk memperbaiki pola kehidupan masyarakat persekitarannya. Sehingga dengan demikian lebih menekan kan ketajaman analisis untuk membangun dan membentuk persekitarannya. Sementara itu Edward Shills menyebutkan pula: "Minat intelektual diperlukan oleh keperluan untuk menyerap, mengalami dan mengekspresikan dalam kata, warga, bentuk atau bunyian suatu makna umum ditengah-tengah peristiwa konkrit yang khas.2

Dengan demikian seorang ilmuan dapat dipastikan sebagai orang yang sentiasa mempunyai kepedulian terhadap lingkungan atau persekitaran

Kecenderungan ilmuan yang diungkapkan oleh pakar seperti diatas, cukup menarik kerana mereka kaya dengan idea dan ketajaman analisis dalam melihat permasalahan persekitaran. Namun demikian,  seperti yang dikatakan oleh Jalaluddin Rahmat:

"Kaum intelektual bukanlah sarjana yang hanya menunjukkan kelompok orang yang sudah melalui pendidikan tinggi dan memperolehi gelaran sarjana. Mereka juga bukan sekadar ilmuan yang mendalami dan mengembangkan jlmu dengan penalaran dan penelitian. Mereka adalah kelompok orang yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya,  menangkap aspirasi mereka,  merumuskan dalam bahasa hang dapat dipahami oleh setiap orang,  menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah.3

Dari jelaslah seorang ilmuan bukan sahaja terperangkap dalam penemuan teori manusia, akan tetapi mampu mengaktualisasikan teori keilmuan yang berorentasi kepada kebaikan masyarakat, bukan mempertahankan status quo. Maka sebagai ilmuan hendaklah selalu memberikan kritik konstruktif untuk menyahut aspirasi masyarakat. Kritikan tentunya malalui jalur atas bawah adalah memfomulasikan pola kehidupan masyarakat.      

Dalam tinjauan yg lebih khusus tentang intelektual yg berkaitan dengan perbaikan dan inovasi serta menyingkirkan status quo, dapat disemak penjelasan Mukti Ali:

"Adapun kaum intelektual adalah mereka yang hidup dalam dunia idea. Mereka memikirkan konsep-konsep idealisme mereka mendorong untuk menghendaki perbaikan, penyempurnaan dari keadaan sekarang yang mereka alami. Kerana itu tindakan-tindakan kaum intelektual atau cendiakiawan adalah mengkritik keadaan yang mereka hadapi.4

Dari ungkapan di atas dapat ditemukan sintesis, bahawa gambaran ilmuan muslim telah merefleksi secara fingsional. Agaknya ilmuan dalam arti intelektual menurut konsepsi  Quran adalah "Ulul Albab"  yang oleh Jalaluddin Rahmat dirumuskan sebagai profil intelektual Muslim. Lebih lanjut ia mengatakan bahawa "Ulul Albab" disebut enam belas kali dalam al Quran. 5

Jika ditelusuri Al Quran, akan dikenakan julukan kepada kelompok yang tertentu, kerana kepada mereka diberikan suatu keistimewaan, iaitu hukmah. Dalam konteks ini Allah SWT berfirman yang ertinya:

"Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yg diberikan hikmah, sesungguhnya telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang beraqal".6   

Dalam Al Quran digunakan ungkapan Ulul Albab, sebagai orang yang diberi hikmah oleh Allah SWT, sosok ideal yg memiliki kualiti integral utk mengamati fenomena alam sebagai kesatuan kebenaran dari pencipta (khaliq). Ulul Albab sebagai profil ilmuan muslim dalam masyarakat moden dapat kita terjemahkan sebagai kaum intelektual beriman. Kelompok ini mempunyai visi yang jauh ke depan, disamping kebijaksanaan dalam menghadapi masalah-masalah masyarakat dan kemanusiaan. Selanjutnya dapat dikemukakan pendapat at Tabari mengenal ungkapan ini:

"Ulul Albab adalah seorang yang mempunyai akal. Sedangkan mengapa Allah menunjukkan makna yg ulul Albab kepada orang yang beraqal, diterangkan oleh at Tabari kerana merekalah orang yang diperintahkan dan dilarang Allah serta merenungkankan ayat-ayat serta merenungkan ayat-ayat serta alasannya bukan orang yang tidak memiliki akal.8

Beberapa ungkapan dan tinjauan di atas memiliki kesamaan dalam melihat makna Ulul Albab. Kalau diperhatikan lebih saksama lagi, tinjauan Al Quran mengenai Ulul Albab mempunyai relevansi didunia kontemporeri. Sebab ditengah kemajuan sains dan teknologi diperlukan kehadiran Ulul Albab untuk menjambatani arus perkembangannya yang semakin memuncak, kerana ilmuan lebih menekankan pandangan yg integral duniawi dan ikhrawi. Berbeda dengan dunia barat, yang hanya menekankan aspek rasional dan impiris. Agar tidak terjebak dalam konsepsi semacam itu, maka dunia Islam hendaknya dapat merujuk dan mengacu kepada Al Quran.

Tinjauan yang lebih sesuai dalam melihat ilmuan muslim adalah lewat prespektif Al Quran, Jalaluddin Rahmat misalnya merakit beberapa ayat Al Quran untuk utk menjelaskan tanda-tanda ulul albab sebagai berikut:

1.  Bersungguh-sungguh mencari ilmu
2.  Mampu memisahkan dari jelek kepada yang baik kemudian ia pilih yang baik, walaupun ia harus sendirian mempertahankan kebikan itu dan walaupun kejelekan itu dipertahankan oleh sekian banyak orang.
3.  Kritis dalam mendengarkan pembicaraan, pandai menimbang-nimbang ucapan, teori, proposisi atau dalil yang dikemukakan orang lain.
4.  Bersedia menyampaikan ilmunya kepada orang lain untuk memperbaiki masyarakatnya, diancamnya masyarakat, diperingatkannya mereka kalau terjadi ketimpangan dan diprotesnya kalau terdapat ketidak-adilan.
5.  Tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah.9

Kelima tanda Ulul Albab di atas bermuara pada nilai yang diajarkan Al Quran. Ulul Albab sentiasa berorentasi kepada pemenuhan kapisiti keilmuan. Ertinya sentiasa mengamati fenomena alam sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah. Maka tidak salah lagi, kalau Ulul Albab itu sentiasa memperdalam dan menggeluti dunia keilmuan. Dan kesenderungan inilah salah satu yang membezakan dengan kelompok sosial lainnya, kerana mereka menerima keistimewaan hikmah (wisdom), kerana itu pula maka ilmuan muslim dalam masyarakat kontemporer mempunyai kualiti keilmuan (integral). serta komitmen terhadap din al Islam sebagai pandangan hidupnya, dan sentiasa berbicara dengan berorentasi kemasa depan.

Dewasa ini dikalangan ilmuan muslim Malaysia khususnya telah muncul antusias yang luar biasa untuk mengkaji masalah-masalah keislaman. Gejala ini merupakan arah yang positif bila ditinjau dari perkembangan pemikiran ilmuan. Ertinya adanya sintesis antara pemikiran normatif dengan konsep-konsep empirik, sehingga dapat memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Munculnya ilmuan Muslim dari berbagai Pengajian Tinggi memang sangat diharapkan. Sebab hal itu akan membuat peranan Pengajian Tinggi, lebih bererti, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualiti akademik yang lebih optimal dan professional di satu pihak dan peranan sosialnya semakin terasa di pihak lain.
                                            



Tiada ulasan:

Catat Ulasan